Riauterkini - TELUKKUANTAN - Tradisi menghidupkan aturan lama dalam festival Pacu Jalur di Tupian Burondo, Kecamatan Pangean, Kuansing, kembali dilestarikan. Berupa penggunaan bendera penanda pemenang atau kalah di garis finish setelah diumumkan dewan hakim.
Langkah ini untuk mengembalikan marwah dan objektivitas Pacu Jalur yang telah lama hilang ditelan zaman.
"Dengan sistim ini pengunjung yang tidak bisa mendengar karena gemuruh penonton atau kebisingan lainnya saat pengumuman maka bisa melihat bendera penanda yang naik," ujar Serma Syakarni, Ketua Pelaksana Pacu Jalur, Tupian Burondo, Jumat (5/6/2026) pagi.
Ketua Pelaksana Pacu Jalur Tupian Burondo, Serma Syakarni, menyebutkan, ini tradisi lama yang perlu dihidupkan kembali, sebagai penanda kemenangan. Penonton bisa melihat bendera yang naik dari kejauhan.
Menurutnya, bendera penanda kemenangan akan menggunakan warna logo Kabupaten Kuantan Singingi, kuning dan hijau.
"Jika Jalur yang menang berada di jalan posisi kanan, maka bendera yang naik adalah warna kuning. Kalau Jalur yang menang berada pada posisi jalan sebelah kiri maka bendera yang naik warna hijau," terangnya.
Penanda ini akan dinaikkan setelah pengumuman dewan hakim. Tujuannya supaya publik tidak bertanya-tanya bila ada gangguan frekwensi radio panitia.
Diterangkan Syakarni, penggunaan bendera di garis finish adalah sistem tradisional yang sangat krusial. Penonton dan pendukung jalur dapat langsung mengetahui pemenang dari kejauhan saat bendera diangkat yang akan menjadi kepuasan tersendiri.
Menghidupkan kembali tradisi lama ini, katanya akan memperkuat nuansa "sakral" dan otentik dari festival Pacu Jalur, menjadikannya unik dibandingkan perlombaan modern lainnya.
Pengibaran bendera sebagai tanda kemenangan adalah elemen visual yang sangat ikonik bagi masyarakat Kuansing dan penonton yang hadir.
Dampak bagi anak pacu, melihat bendera kemenangan diangkat di garis finish memberikan kepuasan emosional yang berbeda dibandingkan sekadar menunggu pengumuman melalui pengeras suara.
"Tentunya hal ini akan meningkatkan semangat juang dan menjaga sportivitas," jelas Syakarni, prajurit yang pernah bertempur di Aceh dan Timur Timor.
Langkah mengembalikan tradisi ini menunjukkan bahwa panitia sangat menghargai masukan dari tokoh adat dan pelaku sejarah Pacu Jalur.
Ini adalah bentuk pelestarian budaya yang sangat positif agar generasi muda mengetahui tradisi lama sesuai dengan akar budayanya.
Namun demikian, penggunaan teknologi tetap diutamakan, berupa pengeras suara. Panitia akan memasang 8 titik pengeras suara sepanjang arena termasuk desa seberang tribun hakim.
"Tiap titiknya akan dipasang dua buah corong pengeras suara. Untuk relay frekwensi panitia akan merangkai secara mandiri melalui putra terbaik Pangean, yang menguasai tecnology," pungkas Syakarni.*** (Jok)