Logo RTC
Logo AMSI
Logo HUT RTC Ke 23
 
 
Mengintip Aktivitas “Gajah Terbang” Adopsi RAPP di Hutan Riau

Riauterkini- PELALAWAN-Gajah Sumatera merupakan satwa khas yang hanya hidup di Pulau Sumatera dan dikenal sebagai mamalia terbesar di Indonesia. Sayangnya, adanya pembalakan liar, pertanian dan perambahan membuat satwa ikonik dari Tanah Sumatera ini kerap terlibat konflik dengan manusia, yang pada ujungnya dapat berisiko terhadap keselamatan satwa yang dilindungi ini dan juga manusia itu sendiri.

Di tengah pedalaman hutan Riau, tak banyak yang tahu ada sekumpulan Gajah Sumatera yang dilestarikan, jinak, terlatih dan sering ikut “berpatroli” bersama manusia untuk membantu mitigasi konflik dengan kawanan gajah liar yang tidak sengaja memasuki area masyarakat.

Gajah-gajah ini merupakan adopsi dan anakan yang dirawat dan dilestarikan oleh APRIL Group, lewat unit usahanya PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Lewat kelompok Skuad Gajah Terbang atau Elephant Flying Squad (EFS), para gajah dilatih untuk ikut membantu para pawing (mahout) agar gajah-gajah liar menjauh dari pemukiman manusia dan terhindar dari konflik sehingga populasinya dapat terus lestari.

“Untuk meredam adanya konflik antara gajah dan manusia, kelompok EFS terus mensosialisasikan kepada masyarakat bagaimana penanganan dalam menghalau gajah liar, salah satunya dengan berpatroli bersama dengan para gajah terlatih ini,” ucap Sarmin, salah satu pawang (mahout) dalam kelompok EFS.

Menurut Sarmin, berpatroli dengan gajah yang tergabung dalam EFS sangat efektif untuk menghalau para gajah liar keluar dari pemukiman masyarakat, sehingga konflik yang tidak diinginkan dapat diredam. Adapun, lokasi camp dan patroli skuad Gajah Terbang ini berada di Ukui, Provinsi Riau.

Saat ini, terdapat enam gajah yang dilestarikan dan bersama-sama membantu manusia mencegah konflik. Mereka adalah Adei, Ika, Mira, Meri, Carmen dan Raja Arman. Dua yang disebutkan paling terakhir adalah anakan gajah-gajah yang lebih dulu diadopsi ini, masing-masing lahir pada tahun 2009 dan 2011 di kamp yang dibangun perusahaan.

Dalam melatih para gajah, Sarmin bercerita bahwa ada tantangan yang menarik karena setiap gajah memiliki perangai yang berbeda-beda. Dia mencontohkan Adei, si jantan tertua dengan perawakan paling berat sekitar 2,8 ton yang memiliki termperamen tinggi dan kaku. Melatih Adei pun perlu kesabaran ekstra dibandingkan yang lainnya.

Belum lagi menangani Carmen, yang kini tengah mengandung. Kini Carmen berperingai lebih manja dan selalu ingin ditemani oleh para pawang saat menghabiskan makanan kesukaan mereka, yakni puding dodol yang terbuat dari ubi.

“Biasanya kalau dipanggil sekali langsung datang, tapi karena sedang hamil agak lambat dan baru datang di panggilan ketiga. Saat makan puding pun maunya ditemani terus sama kita, kalau kita tinggalin mereka tidak mau makan,” jelas Sarmin.

Dalam merawat para gajah yang populasinya semakin menipis ini, Sarmin dan para pawang lainnya sudah dibekali pelatihan oleh perusahaan untuk menjamin kesehatan dan keselamatan hingga membimbing dan membaca karakter para gajah. Sehari-hari, Sarmin dan para pawing lainnya memandikan, memberi makan, memberi minum, hingga berlatih interaksi dan pemeriksaan medis para gajah.

Selain itu, para gajah ini juga diberikan pelatihan atraksi, seperti bermain basket atau bola kaki bersama, hingga menghitung angka. Dulu, sebelum pandemi menyerang, banyak masyarakat yang sering berkujung ke kamp EFS di Kabupaten Langgam ini untuk sekadar bermain atau berfoto bersama para gajah ini. Namun, selama pandemi, kamp tidak bisa didatangi oleh publik maupun tamu sesuai dengan arahan pemerintah dalam protokol kesehatan.

Adapun, tak hanya mengandalkan gajah,para pawang juga mengekstensifkan upaya sosialisasi langsung kepada masyarakat dan memberikan pelatihan tepat sasaran untuk menangani gajah apabila masuk ke daerah lingkungannya. Dengan begitu, kesepahaman mitigasi konflik antarkeduanya dapat lebih harmonis dan tidak berujung pada masalah.

Kolaborasi Elephant Flying Squad (EFS) adalah satuan tim yang terdiri dari pawang dan gajah yang dibentuk sebagai salah satu implementasi teknik mitigasi konflik gajah manusia. Tugas utamanya adalah untuk menggembalakan dan menghalau gajah liar agar tidak masuk ke lahan masyarakat. EFS diperkenalkan oleh BBKSDA Riau dan WWF dan didukung beberapa pemangku kepentingan sejak tahun 2005.

EFS sendiri dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Riau No. 20 tahun 2008 tentang Pembentukan Penanggulangan Konflik Manusia dengan Satwa Liar sebagai tindak lanjut dari Keputusan Menteri Kehutanan RI No. 1841 tahun 2002 tentang gangguan satwa liar dengan manusia.

Program mitigasi konflik dalam EFS sendiri diharapkan dapat mencapai beberapa tujuan, seperti tidak ada lagi gangguan konflik gajah liar yang berbatasan dengan konsesi masyarakat, masyarakat lokal tidak takut untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan gajah, hingga memastikan kondisi gajah yang sehat dan mampu melahirkan keturunan sehingga populasi satwa ini dapat terus terjaga.

Sejak 2005, EFS menjadi salah satu upaya yang dilakukan PT RAPP dalam konservasi keanekaragaman hayati sekaligus memitigasi konflik satwa dan manusia. Hal ini sejalan dengan komitmen APRIL dalam Sustainable Forest Management Policy (SFMP) 2.0 dan APRIL2030 yang fokus mengedepankan konservasi dan perlindungan hutan dalam kegiatan operasionalnya.

EFS sendiri erat bekerjasama dengan pihak lain seperti BBKSDA Riau, Forum Gajah dan lembaga konservasi lainnya untuk bisa saling bertukar informasi dan pengalaman dalam penanganan gajah. Adapun, secara rutin gajah diperiksa kesehatannya baik kondisi fisik secara visual maupun dengan cara mengambil sample darah, feces dan urine.

Tak hanya itu, berbagai pelatihan terus dilakukan untuk meningkatkan kompetensi Mahout dalam membimbing gajah. Patroli gabungan pun rutin dilakukan bersama tim BBKSDA, BTNTN dan WWF.

Sebagai informasi, Pada 2005, PT RAPP bersama pihak terkait seperti World Wide Fund (WWF) dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menandatangani nota kesepahaman mengelola tim patroli dengan gajah, dan pada 2006 tim itu dikukuhkan di Estate Ukui, Pelalawan.

Di hari Gajah Sedunia yang diperingati pada hari ini, yuk kita mulai tularkan semangat untuk melestarikan gajah dengan cara kita masing-masing! Bisa dengan mensosialisasikan pesan seperti yang dilakukan APRIL sehingga lebih banyak lagi institusi atau bahkan individu yang tergerak untuk menjaga populasi dari si Gajah yang terancam ini.***(adv)

Keterangan Foto:

1. Hubungan Istimewa Gajah Sumatera dan Pawang di Elephhant Flying Squad PT RAPP .

2.Gajah Sumatera EFS melakukan patroli hutan bersama pawang.

 
BERITA SEBELUMNYA :
Advertorial
Jumat, 18 September 2026

Dampingi Kapolda Riau dan Pangdam TT, Bupati Inhu Tinjau Lokasi Karhutla

Bupati Inhu menerima menerima kunjungan Kapolda dan Pandang Tuanku Tambusai. Mendampingi meninjau kebakaran lahan.

Galeri
Rabu, 19 Agustus 2026

Dari Renungan Suci hingga Resepsi, Potret HUT ke-81 RI di Inhu

Dari Renungan Suci hingga Resepsi, Potret HUT ke-81 RI di Inhu

Advertorial
Kamis, 10 September 2026

Capella Honda Riau Apresiasi 26 SMK Mitra Binaan Program AHASS Goes to School

Capella Honda Riau Apresiasi 26 SMK Mitra Binaan Program AHASS Goes to School.

Advertorial
Minggu, 06 September 2026

Capella Honda Apresiasi Konsumen Loyal di Momen Hari Pelanggan Nasional 2026

Capella Honda Apresiasi Konsumen Loyal di Momen Hari Pelanggan Nasional 2026.

Galeri
Senin, 17 Agustus 2026

Galeri, Ketua DPRD Inhil Iwan Taruna Bacakan Teks Proklamasi pada Upacara Hari HUT Kemerdekaan ke-81 RI

Galeri, Ketua DPRD Inhil Iwan Taruna Mengikuti dan Baca Teks Proklamasi pada Upacara Hari HUT Kemerdekaan RI ke-81

Advertorial
Kamis, 03 September 2026

New Vario Evo Night Ride Vol 2, Lebih dari 170 Bikers Terangi Malam Pekanbaru

New Vario Evo Night Ride Vol 2, Lebih dari 170 Bikers Terangi Malam Pekanbaru.

Berita Lainnya

Rabu, 30 September 2026

Polres Bengkalis Dukung Penguatan Restorasi Gambut dan Pencegahan Karhutla


Rabu, 30 September 2026

KSP Dorong Tepian Narosa Jadi Kawasan Strategis Nasional, Pacu Jalur Dinilai Punya Daya Tarik Nasional


Rabu, 30 September 2026

Menteri Kehutanan Resmikan Nama Anak Gajah “Ganesha” di TNTN, Polres Pelalawan Pastikan Kunjungan Berjalan Aman


Rabu, 30 September 2026

APBD-P 2026 Ditolak, Pemkab Hormati Keputusan DPRD Inhu


Rabu, 30 September 2026

LPS Pertahankan Tingkat Bunga Penjaminan: Jaga Kepercayaan Masyarakat, Dukung Stabilitas Sistem Keuangan


Rabu, 30 September 2026

Asian Agri Perkuat Pertumbuhan Inklusif melalui Dukungan Pendidikan


Rabu, 30 September 2026

Terlibat Narkoba, Suami Istri di Kecamatan Binawidya Diringkus Polresta Pekanbaru


Rabu, 30 September 2026

PPN Sumbagut Komit Perkuat Pengawasan Penyaluran BBM


Rabu, 30 September 2026

Geruduk 12 THM, Polda Riau Bekuk Dua Pengunjung Positif Narkoba


Rabu, 30 September 2026

Ribuan Bikers dari Aceh hingga Lampung Semarakkan Honda Bikers Day Regional Sumatera 2026


Rabu, 30 September 2026

Seminar Proposal Tesis, Ramli Ditantang Perkuat Perspektif Ilmu Administrasi


Rabu, 30 September 2026

DPRD Bengkalis dan Pemkab Sepakati Perubahan Belanja 2026 Rp3,578 T


Rabu, 30 September 2026

Kunker ke Tanjung Leban Bengkalis, Menhut Sebut Pentingnya Bersama Cegah Karhutla


Rabu, 30 September 2026

Menhut Apresiasi Penanggulangan Karhutla, Hotspot Riau Terendah di Indonesia


Rabu, 30 September 2026

Bukan Sekadar Tertib di Jalan, Satlantas Rohil Ajak Warga Jadi Penjaga Lingkungan


Rabu, 30 September 2026

Dimulai Besok, Mari Kunjungi RJiC Muamalah Festival 2026


Rabu, 30 September 2026

Berkeliaran di Permukiman Beringin Makmur, Pelalawan, Beruang Ancam Keselamatan Warga


Rabu, 30 September 2026

Kapolres Pelalawan Pimpin Ekspos Kasus Perampasan HP dan Penyanderaan Anak di Pangkalan Kuras


Rabu, 30 September 2026

Dukung Tumbuh Kembang Anak, Program Intervensi Gizi Digelar di Kecamatan Sungai Sembilan


Rabu, 30 September 2026

Jaga Alam dan Cegah Karhutla, Polsek Tanah Putih Sosialisasikan Green Policing