Riauterkini-SIAK – Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap korban yang hilang di perairan Tanjung Buton, Kabupaten Siak, memasuki fase krusial.
Dari tiga orang yang dinyatakan tenggelam, 2 diantara sudah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, sedangkan satu korban lagi masih dalam proses pencarian.
Tim SAR Gabungan resmi memperluas radius area penyisiran dengan mengerahkan kekuatan penuh sebanyak 16 armada laut.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Siak, Novendra Kasmara, menyampaikan pengerahan armada secara masif ini merupakan tindak lanjut dari hasil rapat koordinasi darurat yang digelar di Pos TNI AL Tanjung Buton Rabu malam.
"Sesuai dengan hasil evaluasi semalam, kendala utama kita adalah luasnya medan perairan. Oleh karena itu, mulai pagi ini pukul 07.30 WIB, seluruh unsur gabungan sudah bergerak ke laut dengan total 16 armada untuk memaksimalkan penyisiran," ujar Novendra saat dikonfirmasi, Kamis (9/7/2026).
Novendra menjelaskan, operasi kemanusiaan ini berjalan solid berkat sinergi yang kuat antara instansi pemerintah, TNI/Polri, serta pihak swasta.
BASARNAS bertindak sebagai koordinator lapangan, didukung penuh oleh personil dari Polairud Polres Siak, TNI AL Tanjung Buton, KSOP Pakning, serta BPBD.
Selain armada dinas seperti RIB (Rigid Inflatable Boat), Kapal Negara (KN) milik KSOP, dan sekoci Polairud, kekuatan pencarian juga mendapat suplai signifikan dari sektor swasta.
"Kami sangat mengapresiasi komitmen dari PT KIMI yang menurunkan 7 unit pompong nelayan dan PT Sucofindo yang menambah 3 unit pompong. Keterlibatan armada lokal ini sangat membantu memperluas jangkauan search area kita hari ini," tambahnya.
Terkait permintaan dari pihak keluarga korban mengenai kemungkinan evakuasi bawah air, Kepala BPBD Siak itu menyatakan tim di lapangan saat ini tengah melakukan observasi teknis di beberapa titik potensial.
"Pihak keluarga meminta adanya upaya maksimal, termasuk opsi penyelaman. Saat ini tim sedang melihat kondisi arus dan kedalaman laut untuk menilai apakah prosedur penyelaman aman dan memungkinkan untuk dilakukan. Bagaimanapun, keselamatan tim penolong tetap menjadi prioritas (safety first)," jelas Novendra.
Novendra Kasmara, mengingatkan seluruh pergerakan armada di laut wajib melaporkan posisinya secara berkala dan tunduk pada komando satu pintu di Posko Utama yang berlokasi di Pos TNI AL Tanjung Buton.
Ia juga menegaskan agar pihak keluarga maupun manajemen perusahaan tidak mempercayai informasi simpang siur yang beredar di luar posko resmi, terutama yang mengatasnamakan Tim SAR untuk meminta sejumlah uang.
"Operasi ini murni misi kemanusiaan dan bebas biaya. Jika ada oknum yang menghubungi keluarga untuk meminta uang atau fasilitas dengan janji bisa mempercepat pencarian, mohon segera laporkan kepada petugas kami di posko," pungkasnya tegas.
Hingga berita ini diturunkan, ke-16 armada gabungan masih terus melakukan penyisiran intensif di sekitar perairan Tanjung Buton dengan harapan korban dapat segera ditemukan.
Sebagaimana diketahui, kecelakaan laut tragis melanda kawasan Pelabuhan Tanjung Buton, Kampung Sungai Rawa, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak.
Sebuah kapal pompong tenggelam setelah terseret arus kuat, Selasa (7/7/2026) dini hari sekitar pukul 00.00 WIB.
Akibat peristiwa ini, satu orang ditemukan meninggal dunia, tiga orang selamat, dan tiga korban lainnya masih dinyatakan hilang.
Peristiwa bermula saat kapal pompong tersebut tengah bergerak mendekati kapal MV HIMALA untuk melakukan pemeriksaan draft survey (pengukuran muatan kapal). Namun naas, kondisi arus perairan yang sangat kuat membuat nakhoda kehilangan kendali.
Kapal pompong tersebut terseret derasnya arus hingga masuk ke bawah kapal tongkang yang saat itu sedang bersandar di lambung MV HIMALA. Akibat hantaman dan tekanan tersebut, kapal pompong langsung karam dalam waktu singkat.***(Adji)