TANJUNG PINANG- Hari itu, 17 Agustus 2026, atmosfer Gedung Daerah Tanjungpinang terasa begitu berdegup kencang. Sebagai pucuk pimpinan di Provinsi Kepulauan Riau, jadwal Gubernur Ansar Ahmad luar biasa padat. Sejak fajar menyingsing, beliau harus memimpin Upacara Detik-Detik Proklamasi HUT ke-81 RI, menghadiri berbagai agenda seremonial kenegaraan, hingga menyambut para pejabat Forkopimda.
Di lembar jadwal protokoler yang sangat ketat, secara normatif sama sekali tidak ada ruang bagi agenda luar. Namun, sebuah keajaiban kecil yang menyentuh hati justru terjadi di hari bersejarah ini.
Ketika saya mengajukan surat permohonan audiensi dan sengaja memilih tanggal keramat itu, sahabat saya, Sekretaris Jenderal Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) Amril Agin, serta Ketua Panitia Pelaksana Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Ambo Akok, sempat menggelengkan kepala penuh ragu.
Bagi mereka, mustahil seorang kepala daerah bisa meluangkan waktu di tengah hiruk-pikuk Hari Kemerdekaan. Saya paham keraguan itu. Tetapi dalam hati, saya menaruh asa pada sosok pemimpin yang kami kenal selalu membuka pintu bagi kemajuan daerahnya.
Hubungan kami memang sudah terjalin sejak tahun 1996, saat saya baru pertama kali meniti karier sebagai kuli tinta dan ditempatkan di Kantor Bupati Kepri di Jalan Basuki Rahmat, Tanjungpinang. Ansar Ahmad saat itu merupakan seorang PNS yang tak lama setelahnya menjabat sebagai Kepala Bagian Ekonomi di Sekretariat Daerah Kabupaten Kepri.
Kejutan itu datang saat jarum jam menunjukkan pukul 14.29 WIB. Sebuah telepon masuk dari ajudan Gubernur seketika membuat dada kami berdesir: “Pak Gubernur bersedia menerima selepas Magrib di Gedung Daerah.”
Sore berganti malam, Gedung Daerah sudah diselimuti kemeriahan. Tamu-tamu penting dan masyarakat mulai memadati area untuk agenda ramah tamah serta hiburan rakyat. Suasana sangat sibuk dan riuh.
Di tengah pusaran kesibukan yang menguras energi dan pikiran itu, Gubernur Ansar justru melangkah mendekati kami. Tidak ada sekat formalitas yang kaku. Beliau menyambut kami dengan senyuman khasnya yang teduh, jabat tangan yang erat, dan gestur seorang sahabat yang tulus.
Melihat waktu yang begitu mahal, tanpa basa-basi saya langsung menyampaikan maksud kedatangan kami. Kami melaporkan bahwa KJK bekerja sama dengan Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (LUKW) Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Yogyakarta akan menggelar UKW di Hotel CK Tanjungpinang pada Sabtu, 29 Agustus 2026 mendatang.
Mendengar hal itu, binar wajah Gubernur Ansar langsung berubah penuh antusias. Di mata beliau, jurnalis yang sedang berjuang meningkatkan kapasitas diri agar lebih profesional, kompeten, dan beretika, bukanlah sekadar tamu biasa. Itu adalah prioritas. Beliau memandang peningkatan kualitas SDM wartawan sama krusialnya dengan agenda pembangunan fisik lainnya di Kepri.
Tanpa keraguan sedikit pun, Gubernur Ansar langsung memberikan komitmennya. Beliau merangkul niat baik itu dengan penuh ketulusan.
"Saya sudah terima undangannya. Insya Allah, saya hadir dan membuka acaranya sesuai jadwal yang sudah ditetapkan panitia," tegas Ansar dengan nada suara yang mantap sekaligus menyejukkan.
Mendengar jawaban itu, seketika perasaan kami mengharu biru. Ada rasa buncah dan bahagia yang mendalam hingga membuat tenggorokan kami tercekat. Kami sempat tertegun tidak percaya. Di hari yang begitu melelahkan bagi seorang gubernur, beliau tidak hanya memberikan kami waktu yang amat berharga, tetapi juga memberikan legitimasi dan dukungan penuh bagi masa depan pers di Kepulauan Riau.
Ketulusan beliau menerima kami di tengah riuhnya Hari Kemerdekaan menjadi bukti nyata betapa besarnya kepedulian beliau terhadap profesi jurnalis. Kebahagiaan malam itu kian lengkap dan terasa begitu personal.
Sebelum kami berpamitan, dengan penuh keramahtamahan, Gubernur Ansar menoleh ke arah ajudannya. Beliau meminta sang ajudan untuk mengabadikan momen pertemuan kami malam itu melalui bidikan kamera.
Sebuah gestur bersahabat yang sangat spontan, namun menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar formalitas protokoler, melainkan sebuah kenangan berharga yang patut disimpan. Kilatan lampu kamera malam itu resmi mengunci sebuah momen bersejarah agar tak lekang digilas waktu.
Dengan mata yang berkaca-kaca menahan rasa bahagia, saya langsung berdiri, menyalami beliau dengan takzim, dan memohon diri. Kami pulang ke sekretariat dengan langkah kaki yang terasa ringan dan semangat yang membubung tinggi untuk memimpin rapat pemantapan panitia.
Tiada untaian kata yang cukup kuat untuk mewakili rasa terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya dari kami. Terima kasih, Pak Gubernur Ansar Ahmad, atas ruang waktu, ketulusan hati, dan pelukan hangatnya bagi peningkatan SDM wartawan di Bumi Bunda Tanah Melayu ini.
Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia!
Merdeka!, Merdeka!, Merdeka!***